Pandangan terhadap pembelajaran
Penelitian
yang dilakukan dalam kurun waktu 100 tahun yang lampau terhadap pembelajaran
memunculkan pandangan-pandangan yang berbeda. Menurut Mayer, ada tiga pandangan
yang berbeda terhadap peristiwa belajar. Tiga pandangan tersebut antara lain, yang
pertama peristiwa belajar dianggap sebagai respon penguatan. Pandangan yang
kedua menganggap peristiwa belajar merupakan penambahan atau penerimaan
pengetahuan. Selanjutnya pandangan yang ke-3 memandang peristiwa belajar
sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan.
Berdasarkan pandangan yang pertama,
peristiwa belajar terjadi ketika pebelajar mengalami penguatan atau pelemahan sebagai
respon terhadap stimulus yang diberikan. Peristiwa belajar sebagai respon
penguatan ini, menjadi dasar munculnya teori behaviorisme yang dikembangkan
pada pertengahan abad ke-20, berdasarkan pada penelitian yang dilakukan secara
luas terhadap peristiwa belajar pada binatang. Tokoh-tokoh yang berada dibalik
munculnya teori behaviorisme antara lain Ivan Pavlop yang dikenal sebagai bapak
pengkondisian klasik, Edward Thorndike dengan teori koneksionismenya, dan B F.
Skinner dengan teori pengkondisian operan. Berdasarkan teori behaviorisme peran
pebelajar adalah sebagai penerima imbalan (reward)
dan hukuman (punishment) secara
pasif. Sedangkan peran pembelajar adalah untuk menciptakan sebuah lingkungan
dimana pebelajar dapat memberikan respon secara berulang yang segera diikuti
dengan umpan balik (feedback).
Pandangan yang kedua, memahami peristiwa
belajar sebagai proses perolehan pengetahuan ( knowledge acquisition). Pandangan ini didasarkan pada ide yang
muncul pada sebuah riset komunikasi yang
diawali pada Perang Dunia II, yang melahirkan kesimpulan bahwa peristiwa
belajar merupakan semacam system pemrosesan informasi yang kompleks. Selain itu
pandangan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan Komputer super cepat, yang
dipelopori oleh Newell dan Simon (1961) yang mengaplikasikan pendekatan operasi
Komputer untuk mengembangkan model pemecahan masalah manusia. Pandangan
terhadap peristiwa belajar ini mendapat
identitas formal dengan terbitnya buku karya Ulrich Neisser yang berjudul cognitive psychology di tahun 1967
(Gredler,2011). Belajar menurut teori
kognitif terjadi ketika pebelajar memasukkan sebuah imformasi baru ke dalam long-term memory. Peran pebelajar
menurut teori kognitif adalah secara pasif menerima imformasi. Sedangkan
pembelajar berperan sebagai pemberi imformasi. Berdasarkan teori kognitif,
imformasi merupakan sebuah komoditi yang dapat ditransfer secara langsung dari
pembelajar ke pebelajar. Peran desainer
pengajaran adalah untuk menciptakan lingkungan dimana pebelajar dapat menerima
sejumlah besar imformasi, seperti di dalam buku teks, ceramah dan
program-program multimedia berbasis computer.
Pandangan yang ketiga, peristiwa
belajar adalah sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan, yang berdasarkan pada
ide bahwa peristiwa belajar terjadi ketika pebelajar secara aktif mengkonstruksi
pengetahuan ke dalam memory aktif. Menurut pandangan ini, pebelajar mencoba
membuat pemahaman baru (memberikan makna) terhadap pengetahuan berdasarkan
pengalamannya. Pandangan ini muncul pada tahun 1980-1990 yang didasarkan pada
penelitian terhadap proses belajar manusia pada kondisi yang realistis. Aliran
konstrukstivisme lebih menekankan pada tujuan pembelajaran pada bagaimana
belajar, yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata , yang
mendorong seseorang untuk berfikir dan mendemonstrasikan apa yang telah atau
sedang ia pelajari. Dengan demikian tujuan pembelajaran berdasarkan aliran
konstruktivis adalah tidak bersifat penambahan pengetahuan. Peran pebelajar menurut aliran konstruktivisme
adalah sebagai pemberi makna terhadap proses belajar, sedangkan pembelajar
berperan sebagai penuntun atau mediator agar pebelajar dapat mengkonstruksi
pengetahuan.
Variabel pembelajaran
Pembelajaran didefinisikan
sebagai upaya untuk membelajarkan subjek didik. Dalam implementasinya
memerlukan model dan metode tertentu yang dipilih berdasarkan pertimbangan
variable-variabel yang berkaitan langsung dalam proses pembelajaran. Menurut
Reigeluth, (1983). ada tiga variable yang diklasifikasikan untuk keperluan
desain pembelajaran yaitu kondisi pembelajaran, metode pembelajaran, dan hasil
pembelajaran.
Kondisi pembelajaran didefiniskan
sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efek yang dihasilkan oleh
metode pembelajaran. Pertimbangan untuk
memilih metode pembelajaran, dari segi kondisi pembelajaran yaitu berdasarkan
pada karakter materi pelajaran, kendala atau
ketersediaan sarana belajar dan karakterisitik dari pebelajar. Sebagai
contoh, sebuah metode dalam pembelajaran dapat sangat tepat dipilih untuk
membantu mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan bila pebelajar memiliki
motivasi yang rendah. Pada sisi yang lain metode ini juga bisa mengganggu pencapaian
hasil pembelajaran apabila diterapkan pada pebelajar yang memiliki motivasi
yang tinggi.
Variabel yang kedua yaitu metode
pembelajaran merupakan cara yang dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran yang
diinginkan didalam berbagai kondisi yang berbeda pula.Metode pembelajaran
merupakan variabel yang dapat dimanipulasi.
Sehingga implikasinya seorang pendesain pembelajaran atau pembelajar
harus mampu memanipulasi metode pembelajaran agar dapat digunakan pada berbagai
situasi.
Variabel yang ketiga yaitu hasil
pembelajaran adalah merupakan efek yang diperoleh dari pemakaian metode yang
memberikan sebuah ukuran pada setiap kondisi yang berbeda. Hasil pembelajaran
dapat berupa aktual (actual outcomes)
atau hasil yang diinginkan (desired
outcomes). Actual outcomes
merupakan hasil pembelajaran yang diperoleh sebagai efek penerapan dari metode
tertentu di dalam kondisi tertentu. Sedangkan desired outcomes merupakan sebuah tujuan dari pembelajaran,
sehingga sering mempengaruhi metode apa yang seharusnya dipilih agar tujuan
pembelajaran tercapai.Taxonomi
Dalam kehidupan ini,keberadaan sebuah
tujuan dapat membantu memfokuskan perhatian dan usaha kita. Tujuan-tujuan itu
mengindikasi pada apa yang ingin kita selesaikan. Bila dikaitkan dengan
pendidikan, maka tujuan pembelajaran mengindikasikan pada apa yang diinginkan
pembelajar untuk dipelajari oleh pebelajar. Tujuan dalam pengajaran merupakan
hal yang sangat penting karena pengajaran merupakan kegiatan yang bersifat disengaja
dan beralasan. Disengaja, karena biasanya kita mengajar dengan beberapa maksud,
terutama untuk memfasilitasi pebelajar untuk belajar. Pengajaran adalah
beralasan, karena apa yang diajarkan pembelajar dinilai sendiri oleh pembelajar
berfaedah atau tidak. Aspek disengaja berhubungan dengan bagaimana pembelajar membantu pebelajar untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Sedangkan aspek alasan adalah mengenai tujuan pembelajaran apa yang dipilih oleh pembelajar
(Anderson, W.L dan Krathwohl, D. R, 2001).
Menurut Bloom dan Gagne, Kebanyakan
ahli-ahli teori dalam dunia pendidikan mengkategorikan jenis-jenis pembelajaran
ke dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif dan motor (reigeluth, 1999). Bloom
dan rekan-rekannya mengembangkan sebuah taxonomi yang telah digunakan secara
luas untuk mengkategorikan tipe-tipe tujuan pembelajaran dalam domain kognitif.
Karya bloom dan rekannya menyediakan sebuah bahasa yang umum bagi para pengajar
dan telah menjadi standar untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tujuan
dan kegiatan pembelajaran. Tipe utama pembelajaran yang didentifikasi oleh
bloom dan rekannya dapat dilihat dalam Tabel
1.
Tabel 1. Taxonomi Bloom
Pengetahuan
|
pada level ini
pebelajar memiliki kemampuan untuk mengingat dan memanggil kembali imformasi
dalam range konkret ke abstrak
|
pemahaman
|
Kemampuan untuk
mengerti dan memahami. Bloom merasa bahwa level ini merupakan penekanan yang
paling utama pada sekolah atau perguruan tinggi.
|
Aplikasi
|
Kemampuan untuk
menerapkan konsep yang sesuai pada sebuah masalah atau situasi.
|
Analisis
|
Kemampuan untuk
memilah atau membuat break down materi
dan mendefinisikan hubungan antar bagaian
|
Sintesis
|
Kemampuan membuat
produk, mengkombinasikan antara materi berdasarkan pengalaman sebelumnya
dengan materi yang baru menjadi materi yang utuh.
|
Evaluasi
|
Kemampuan untuk
membuat pendapatatau penilaian terhadap materi, ide-ide dan lainnya.
|
Selain Bloom, para ahli teori lainnya
juga mengajukan taxonomi pembelajaran dalam domain kognitif seperti berikut
ini:
Taxonomi dari Gagne (1985)
Ø imformasi verbal yaitu kemampuan
pebelajar untuk menyatakan atau menceritakan sebuah kenyataan atau suatu set
kejadian dengan kemampuan bicara atau tulisan, ketikan atau bahkan dengan
menggambar.
Ø Kemampuan intelektual yaitu kemampuan
pebelajar untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan
simbol-simbol.
Ø Strategi kognitif yaitu pebelajar telah
mempelajari keahlian untuk mengatur cara belajarnya sendiri, cara mengingat,
dan cara berfikir.
Taxonomi dari Ausubel (1968)
Ø Rote learning yaitu
materi belajar dapat diingat oleh pebelajar namun tanpa pengertian.
Ø Meaningful learning yaitu bahan pelajaran dapat diserap secara bermakna.
Taxonomi dari Anderson (1983)
Ø Pengetahuan deklaratif yaitu
pengetahuan tentang mendefinisikan sesuatu.
Ø Pengetahuan procedural yaitu
pengetahuan tentang bagaimana untuk melakukan sesuatu.
Taxonomi dari Merrill (1983)
Ø Remember verbatim yaitu mendapatkan kembali imformasi.
Ø Remember paraphrased yaitu berkenaan dengan pengintegrasian dari ide-ide kedalam ingatan yang
saling berhubungan dengan ide tersebut.
Ø Use a generality dimana pebelajar dapat menggunakan aturan umum untuk memproses imformasi
yang khusus.
Ø Find a generality yaitu pebelajar menemukan aturan umum yang baru atau sebuah proses pada
level yang lebih tinggi
Semua taxonomi yang diajukan oleh
para ahli teori tersebut memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya. Seperti
yang diidentifikasikan oleh Reigeluth dalam Table 2.
Tabel 2. Taxonomi Pembelajaran
Bloom
|
Gagne
|
Ausubel
|
Anderson
|
Merril
|
Reigeluth
|
Knowledge
|
Verbal information
|
Rote
learning
|
Declarative knowledge
|
Remember verbatim
|
Memorize Information
|
Comprehension
|
Meaningful learning
|
Remember paraphrased
|
Understand relationships
|
||
Aplication
|
Intellectual skill
|
Procedural knowledge
|
Use a generality
|
Apply skills
|
|
Analysis
|
Cognitive strategy
|
Find a generality
|
Apply generic skills
|
||
Synthesis
|
|||||
Evaluation
|
Model Pembelajaran SOI dari Mayer
Pada Makalah ini penulis mencoba
untuk memaparkan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Richard E. Mayer. Model
pembelajaran mayer ini, merupakan model yang yang didesain untuk membantu
perkembangan konstruksi pengetahuan (understanding)
melalui instruksi langsung (direct
instruction). Untuk itu, dalam makalah ini penulis mencoba untuk meninjau
sedikit tentang instruksi langsung.
Mayer menyatakan dalam Reigeluth (1999), seorang pebelajar mendapatkan
pembelajaran konstruktivist tidak hanya
melalui pembelajaran discovery,
tetapi melalui instruksi langsung yang di desain dengan baik, akan memberikan
pembelajaran yang bermakna. Tujuan pembelajaran langsung adalah untuk membantu
pebelajar mempelajari material akademik dengan cara yang paling efisien secara
langsung. Joyce, Weil and Calhoun, (2009). menyebutkan dua tujuan dari
instruksi langsung yaitu memaksimalkan waktu belajar pebelajar dan
mengembangkan kemandirian dalam mencapai tujuan pendidikan. Karateristik utama
dari instruksi langsung adalah pembelajaran yang berpusat pada pembelajar,
berorientasi pada tugas, harapan yang positif dari pembelajar, kerjasama dan
tanggung jawab, nonnegative affect, dan
penyusunan struktur (Cruickshank, 2009).
Ø Pembelajaran yang terpusat pada
pembelajar berarti
bahwa pembelajar yang menentukan arah dan mengontrol apa yang harus dipelajari
dan bagaimana mempelajarinya (Joyce, Weil and Calhoun,2009).
Ø Berorientasi pada tugas berarti tugas-tugas merupakan dasar
pembelajaran akademik.
Ø Harapan positif mengindikasikan pembelajar memiliki
harapan kepada setiap pebelajar untuk sukses dan sangat memberikan perhatian
terhadap perkembangan tiap-tiap pebelajar.
Ø Kerja sama dan tanggung jawab berarti
pebelajar mempunyai tanggung jawab untuk pekerjaan akademik mereka
masing-masing dan selanjutnya mereka diharapkan untuk saling membantu dan
saling berbagi bahan pelajaran satu dengan yang lainnya.
Ø Nonnegative affect berarti pembelajar menjamin pebelajar untuk merasa aman secara psykologi
atau tidak merasa terancam.
Ø Penyusunan struktur berarti mengarah pada kenyataan bahwa pembelajar yang
menetapkan aturan kelas yang harus diikuti oleh pebelajar.
Menurut Cruickshank dkk, 2009. Instruksi
langsung akan bermanfaat pada saat diterapkan untuk mengajar pengetahuan konsep
dan prosedur yang eksplisit. Dengan kata lain, pembelajaran langsung akan
memberikan nilai bila digunakan untuk mengajarkan materi yang terstruktur
dengan baik, jelas dan tidak ambigu. Lebih lanjut Cruickshank juga
mengidentifikasi beberapa kritik terhadap pembelajaran langsung yaitu
diantaranya adalah adanya pembatasan otonomi belajar, tidak membantu pebelajar
dalam memperoleh nilai kreativitas, berfikir abstract, pemecahan masalah atau
level yang lebih tinggi dalam kognitif skill.
Mayer
mengembangkan model pembelajaran SOI untuk membantu pembelajaran konstruktivis
dengan penggunaan text, ceramah dan pesan multimedia. Tujuan model ini adalah
untuk mendorong pengaktifan beberapa proses kognitif pada pebelajar selama
pembelajaran yang mencakup: pemilihan informasi yang relevan, pengorganisasian
informasi, dan pengintegrasian informasi yang datang dengan pengetahuan yang
sudah dimiliki oleh pebelajar.
S = selecting
relevant information
O = organizing
information in a meaningful way to the learner
I =
integrating the new information with the learner’s prior knowledge
proses pertama dalam model mayer ini
adalah pemilihan informasi yang relevan untuk proses selanjutnya. Ketika gambar
dan kata-kata disampaikan ke pebelajar dalam sebuah pesan pembelajaran, maka
pebelajar melukiskannya ke dalam sensor memory. Disebabkan oleh keterbatasan
kapasitas dari system proses informasi manusia, maka hanya sebagian dari
informasi itu yang bisa digunakan dalam proses selanjutnya yaitu pada working memory. Oleh karena itu menurut
mayer adalah penting untuk pebelajar melakukan seleksi informasi agar dapat
bertahan pada working memory.
Mayer memberikan beberapa teknik yang
dapat digunakan untuk mendorong pebelajar menyeleksi informasi yang relevan.
Beberpa teknik itu antara lain: penggunaan heading, penulisan miring (italic), penebalan huruf, font yang
lebih besar, bullets, tanda panah, ikon,
garis bawah, margin notes,
pengulangan atau white space untuk
memperjelas informasi yang relevan. Selain itu penggunaan pertanyaan tambahan, pernyataan
tujuan pembelajaran untuk menekankan imformasi yang relevan, penyediaan summary dan penghilangan informasi yang
tidak relevan juga termasuk ke dalam teknik-teknik yang dapat dipakai untuk
mendorong pebelajar menyeleksi informasi.
Organizing incoming
information
Proses kedua
pada model pembelajaran mayer ini yaitu mengorganisasi informasi yang dilakukan
di dalam working memory. Beberapa
teknik yang dapat dipakai untuk mendorong pebelajar mengorganisasi materi yaitu
antara lain:
Struktur dari text yang dapat berupa struktur yang bersifat
perbandingan, pengklasifikasian (jaringan hirearki), enumerasi, generalisasi,
dan struktur sebab akibat. Selain mengolah struktur text itu sendiri, cara
seperti penggunaan outline, heading, pointer atau representasi graphic juga
dapat dipakai untuk mendorong pebelajar mengorganisasi materi.
Integrating information
Pada proses yang ketiga, pebelajar membuat koneksi satu-satu antara
elemen pictorial yang berkorespondensi dan representasi verbal dengan menggunakan
pengetahuan sebelumnya. Bagaimana cara untuk mengintegrasikan informasi baru
dengan pengetahuan sebelumnya, Mayer telah mendemonstrasikan bagaimana
menggunaan teknik advance organizer
atau analogy, ilustrasi, animasi bernarasi, worked-out examples, dan pertanyaan
elaborative dapat dipakai untuk membantu pebelajar dalam mengintegrasikan
informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.
Berikut ini kerangka perbandingan yang diajukan oleh
reigeluth yang dapat digunakan sebgai cara untuk mengklasifikasikan model
pembelajaran (reigeluth, 2009) yang terdiri dari :
type of learning: berhubungan
dengan maksud dan tujuan pembelajaran serta tipe pembelajaran yang terlibat.
focus of learning: apakah
pembelajaran berkisar pada topic yang specific, masalah atau hal yang lainnya.
control of learning: siapakah
yang mengontrol pembelajaran : pembelajar, pebelajar atau pendesain
pembelajaran
grouping of learning: bagaimana
pebelajar dibuatkan grup atau apakah pebelajar bekerja secara individual atau
berkelompok
interaction for learning: apa bentuk
interaksi alami pembelajaran, pembelejar dengan pebelajar, pebelajar dengan
pebelajar atau pebelajar dengan material
support
for learning: apa jenis dan level pendukung yang diberikan kepada
pebelajar, apa jenis pendukung kognitif yang diberikan oleh pembelajar atau
materi, sumber daya apa yang tersedia di dalam pembelajaran, apa jenis
pendukung emotional yang diberikan.
a.
Type of learning
Tipe model pembelajaran SOi ini adalah pengaplikasian skill, pemahaman
hubungan antar materi, dan penerapan skil umum.
Memorize information
|
Apply skills
|
Understand
relationship
|
Apply generic
skills
|
Meskipun ketiga area di atas adalah relevan dengan model
pembelajaran SOI, namun penerapan skil umum tidak menjadi penekanan pada model
mayer ini (Bradford G etc, 2008).
b.
Control of learning
Kontrol pembelajaran model SOI adalah berpusat pada
pebelajar. Mayer meletakkan model pembelajaran yang ia kembangkan kedalam
pendekatan konstruktivis, yang dapat diketahui dari pernyataanya yang berbunyi “constructivist learning occur when learner
actively create their own knowledge by trying to make sense out of material
that presented to them” (Mayer,1999)
Secara umum model pembelajaran SOI berfokus pada aktivasi
proses kognitif pebelajar yang terdiri dari penyeleksian, pengorganisasian dan
pengintegrasian materi. Pebelajar memiliki tanggung jawab pada penyeleksian
informasi yang relevan, pengorganisasian dan pengintegrasikan imformasi. Ketiga
elemen ini secara bersama-sama menunjukkan bahwa model pembelajaran SOI ini
adalah berpusat pada pebelajar.
c.
Focus of learning
Fokus model pembelajaran SOI ini
adalah untuk pebelajar mampu memilih, mengorganisasi dan menginterpretasikan
imformasi secara tegas dari bahan text, ceramah dan multimedia.
d.
Grouping of learning
Model pembelajaran SOI berfokus pada
proses kognitif sesorang dalam memilih, mengorganisasi dan mengintegrasikan
imformasi. Sehingga semua tugas diselesaikan secara individu ketimbang dalam
sebuah grup.
e.
Interaction for learning
Learner – human interactions
|
Learner – Non human interactions
|
||||
Learner-instructor
|
Learner-learner
|
Learner-other
|
Learner-content
|
Learner-interface
|
Learner-environment
|
f.
Support for learning
Model pembelajaran yang dikembangkan
oleh Mayer adalah sebagai support
cognitive yang berfokus pada penyediaan strategi untuk pengorganisasian,
penekanan dan pemanfaatan pesan pembelajaran yang berguna untuk membantu
pebelajar dalam melakukan pemilihan, pengorganisasian dan pengintegrasian
materi.
Kesimpulan
Pada saat ini banyak dikembangkan
model-model pembelajaran. Berdasarkan pada variabel-variabel yang mempengaruhi
pada proses pembelajaran itu sendiri, maka sebenarnya tidak ada satupun metode pembelajaran yang
dianggap paling baik atau tidak baik dalam pembelajaran. Model
pembelajaran Mayer adalah model pembelajaran yang kelihatannya bersifat pasif,
misalnya seperti membaca atau mendengarkan ceramah instructor. Tetapi apabila
teks bacaan dan ceramah didesain dengan teknik-teknik seperti yang diungkapkan
oleh Mayer maka pembelajaran konstrukstivis juga bisa dihasilkan dengan
mengajak pebelajar untuk memperhatikan imformasi yang relevan (selecting), secara mental mengorganisasi
imformasi ke dalam sebuah gambaran yang saling bertalian secara logis
(organizing) dan mengintegrasikan imformasi tersebut dengan pengetahuan yang
telah dimiliki sebelumnya.
References
Anderson, L. W. & Krathwohl D.
R., (2001) A Taxonomy For Learning, Teaching, And Assessing: A Revision Of
Bloom’s Taxonomy Of Educational Objectives
Cruickshank, Jenkins & Metcalf,
(2009). The Act Of Teaching
Gredler, E. M. (2011)., Learning And
Instruction: Theory and The Application.
Joyce, B., Weil, M., & Calhoun,
E. (2009). Model Of Teaching
Reigeluth, C. M., (1983) Instructional
Design Theoris And Models: A New Paradigm of Instructional Theory, Volume I.
Reigeluth, C. M., (1999) Instructional
Design Theoris And Models: A New Paradigm of Instructional Theory, Volume II.
Reigeluth, C. M., (1999) Instructional
Design Theoris And Models: Building a Common Knowledge Base, Volume III.
http://www.heybradfords.com/moonlight/files/CV/DoctoralCourseFiles/Design%20Brief_r1.pdf