Sabtu, 17 November 2012

Mendesain Lingkungan Pembelajaran Konstruktivis



Pandangan terhadap pembelajaran  

    Penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu 100 tahun yang lampau terhadap pembelajaran memunculkan pandangan-pandangan yang berbeda. Menurut Mayer, ada tiga pandangan yang berbeda terhadap peristiwa belajar. Tiga pandangan tersebut antara lain, yang pertama peristiwa belajar dianggap sebagai respon penguatan. Pandangan yang kedua menganggap peristiwa belajar merupakan penambahan atau penerimaan pengetahuan. Selanjutnya pandangan yang ke-3 memandang peristiwa belajar sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan.
Berdasarkan pandangan yang pertama, peristiwa belajar terjadi ketika pebelajar mengalami penguatan atau pelemahan sebagai respon terhadap stimulus yang diberikan. Peristiwa belajar sebagai respon penguatan ini, menjadi dasar munculnya teori behaviorisme yang dikembangkan pada pertengahan abad ke-20, berdasarkan pada penelitian yang dilakukan secara luas terhadap peristiwa belajar pada binatang. Tokoh-tokoh yang berada dibalik munculnya teori behaviorisme antara lain Ivan Pavlop yang dikenal sebagai bapak pengkondisian klasik, Edward Thorndike dengan teori koneksionismenya, dan B F. Skinner dengan teori pengkondisian operan. Berdasarkan teori behaviorisme peran pebelajar adalah sebagai penerima imbalan (reward) dan hukuman (punishment) secara pasif. Sedangkan peran pembelajar adalah untuk menciptakan sebuah lingkungan dimana pebelajar dapat memberikan respon secara berulang yang segera diikuti dengan umpan balik (feedback).
Pandangan yang kedua, memahami peristiwa belajar sebagai proses perolehan pengetahuan ( knowledge acquisition). Pandangan ini didasarkan pada ide yang muncul pada sebuah riset komunikasi  yang diawali pada Perang Dunia II, yang melahirkan kesimpulan bahwa peristiwa belajar merupakan semacam system pemrosesan informasi yang kompleks. Selain itu pandangan ini juga dipengaruhi oleh perkembangan Komputer super cepat, yang dipelopori oleh Newell dan Simon (1961) yang mengaplikasikan pendekatan operasi Komputer untuk mengembangkan model pemecahan masalah manusia. Pandangan terhadap peristiwa belajar  ini mendapat identitas formal dengan terbitnya buku karya Ulrich Neisser yang berjudul cognitive psychology di tahun 1967 (Gredler,2011).  Belajar menurut teori kognitif terjadi ketika pebelajar memasukkan sebuah imformasi baru ke dalam long-term memory. Peran pebelajar menurut teori kognitif adalah secara pasif menerima imformasi. Sedangkan pembelajar berperan sebagai pemberi imformasi. Berdasarkan teori kognitif, imformasi merupakan sebuah komoditi yang dapat ditransfer secara langsung dari pembelajar ke pebelajar.  Peran desainer pengajaran adalah untuk menciptakan lingkungan dimana pebelajar dapat menerima sejumlah besar imformasi, seperti di dalam buku teks, ceramah dan program-program multimedia berbasis computer.
Pandangan yang ketiga, peristiwa belajar adalah sebagai proses mengkonstruksi pengetahuan, yang berdasarkan pada ide bahwa peristiwa belajar terjadi ketika pebelajar secara aktif mengkonstruksi pengetahuan ke dalam memory aktif. Menurut pandangan ini, pebelajar mencoba membuat pemahaman baru (memberikan makna) terhadap pengetahuan berdasarkan pengalamannya. Pandangan ini muncul pada tahun 1980-1990 yang didasarkan pada penelitian terhadap proses belajar manusia pada kondisi yang realistis.   Aliran konstrukstivisme lebih menekankan pada tujuan pembelajaran pada bagaimana belajar, yang menuntut aktivitas kreatif produktif dalam konteks nyata , yang mendorong seseorang untuk berfikir dan mendemonstrasikan apa yang telah atau sedang ia pelajari. Dengan demikian tujuan pembelajaran berdasarkan aliran konstruktivis adalah tidak bersifat penambahan pengetahuan.  Peran pebelajar menurut aliran konstruktivisme adalah sebagai pemberi makna terhadap proses belajar, sedangkan pembelajar berperan sebagai penuntun atau mediator agar pebelajar dapat mengkonstruksi pengetahuan.

Variabel pembelajaran


Pembelajaran  didefinisikan sebagai upaya untuk membelajarkan subjek didik. Dalam implementasinya memerlukan model dan metode tertentu yang dipilih berdasarkan pertimbangan variable-variabel yang berkaitan langsung dalam proses pembelajaran. Menurut Reigeluth, (1983). ada tiga variable yang diklasifikasikan untuk keperluan desain pembelajaran yaitu kondisi pembelajaran, metode pembelajaran, dan hasil pembelajaran.
Kondisi pembelajaran didefiniskan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap efek yang dihasilkan oleh metode pembelajaran. Pertimbangan untuk memilih metode pembelajaran, dari segi kondisi pembelajaran yaitu berdasarkan pada karakter materi pelajaran, kendala atau  ketersediaan sarana belajar dan karakterisitik dari pebelajar. Sebagai contoh, sebuah metode dalam pembelajaran dapat sangat tepat dipilih untuk membantu mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan bila pebelajar memiliki motivasi yang rendah. Pada sisi yang lain metode ini juga bisa mengganggu pencapaian hasil pembelajaran apabila diterapkan pada pebelajar yang memiliki motivasi yang tinggi. 
  Variabel yang kedua yaitu metode pembelajaran merupakan cara yang dipakai untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan didalam berbagai kondisi yang berbeda pula.Metode pembelajaran merupakan variabel yang dapat dimanipulasi.  Sehingga implikasinya seorang pendesain pembelajaran atau pembelajar harus mampu memanipulasi metode pembelajaran agar dapat digunakan pada berbagai situasi.
Variabel yang ketiga yaitu hasil pembelajaran adalah merupakan efek yang diperoleh dari pemakaian metode yang memberikan sebuah ukuran pada setiap kondisi yang berbeda. Hasil pembelajaran dapat berupa aktual (actual outcomes) atau hasil yang diinginkan (desired outcomes). Actual outcomes merupakan hasil pembelajaran yang diperoleh sebagai efek penerapan dari metode tertentu di dalam kondisi tertentu. Sedangkan desired outcomes merupakan sebuah tujuan dari pembelajaran, sehingga sering mempengaruhi metode apa yang seharusnya dipilih agar tujuan pembelajaran tercapai.

Taxonomi


Dalam kehidupan ini,keberadaan sebuah tujuan dapat membantu memfokuskan perhatian dan usaha kita. Tujuan-tujuan itu mengindikasi pada apa yang ingin kita selesaikan. Bila dikaitkan dengan pendidikan, maka tujuan pembelajaran mengindikasikan pada apa yang diinginkan pembelajar untuk dipelajari oleh pebelajar. Tujuan dalam pengajaran merupakan hal yang sangat penting karena pengajaran merupakan kegiatan yang bersifat disengaja dan beralasan. Disengaja, karena biasanya kita mengajar dengan beberapa maksud, terutama untuk memfasilitasi pebelajar untuk belajar. Pengajaran adalah beralasan, karena apa yang diajarkan pembelajar dinilai sendiri oleh pembelajar berfaedah atau tidak. Aspek disengaja berhubungan dengan bagaimana pembelajar membantu pebelajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan aspek alasan adalah mengenai tujuan pembelajaran apa yang dipilih oleh pembelajar (Anderson, W.L dan Krathwohl, D. R, 2001).
Menurut Bloom dan Gagne, Kebanyakan ahli-ahli teori dalam dunia pendidikan mengkategorikan jenis-jenis pembelajaran ke dalam tiga domain yaitu kognitif, afektif dan motor (reigeluth, 1999). Bloom dan rekan-rekannya mengembangkan sebuah taxonomi yang telah digunakan secara luas untuk mengkategorikan tipe-tipe tujuan pembelajaran dalam domain kognitif. Karya bloom dan rekannya menyediakan sebuah bahasa yang umum bagi para pengajar dan telah menjadi standar untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan tujuan dan kegiatan pembelajaran. Tipe utama pembelajaran yang didentifikasi oleh bloom dan rekannya dapat dilihat dalam Tabel 1.
Tabel 1. Taxonomi Bloom
Pengetahuan
pada level ini pebelajar memiliki kemampuan untuk mengingat dan memanggil kembali imformasi dalam range konkret ke abstrak
pemahaman
Kemampuan untuk mengerti dan memahami. Bloom merasa bahwa level ini merupakan penekanan yang paling utama pada sekolah atau perguruan tinggi.
Aplikasi
Kemampuan untuk menerapkan konsep yang sesuai pada sebuah masalah atau situasi.
Analisis
Kemampuan untuk memilah atau membuat break down materi dan mendefinisikan hubungan antar bagaian
Sintesis
Kemampuan membuat produk, mengkombinasikan antara materi berdasarkan pengalaman sebelumnya dengan materi yang baru menjadi materi yang utuh.
Evaluasi
Kemampuan untuk membuat pendapatatau penilaian terhadap materi, ide-ide dan lainnya.

Selain Bloom, para ahli teori lainnya juga mengajukan taxonomi pembelajaran dalam domain kognitif seperti berikut ini:
Taxonomi dari Gagne (1985)
Ø  imformasi verbal yaitu kemampuan pebelajar untuk menyatakan atau menceritakan sebuah kenyataan atau suatu set kejadian dengan kemampuan bicara atau tulisan, ketikan atau bahkan dengan menggambar.
Ø  Kemampuan intelektual yaitu kemampuan pebelajar untuk berinteraksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol.
Ø  Strategi kognitif yaitu pebelajar telah mempelajari keahlian untuk mengatur cara belajarnya sendiri, cara mengingat, dan cara berfikir.
Taxonomi dari Ausubel (1968)
Ø  Rote learning yaitu materi belajar dapat diingat oleh pebelajar namun tanpa pengertian.
Ø  Meaningful learning yaitu bahan pelajaran dapat diserap secara bermakna.
Taxonomi dari Anderson (1983)
Ø  Pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan tentang mendefinisikan sesuatu.
Ø  Pengetahuan procedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana untuk melakukan sesuatu.
Taxonomi dari Merrill (1983)
Ø  Remember verbatim yaitu mendapatkan kembali imformasi.
Ø  Remember paraphrased yaitu berkenaan dengan pengintegrasian dari ide-ide kedalam ingatan yang saling berhubungan dengan ide tersebut.
Ø  Use a generality dimana pebelajar dapat menggunakan aturan umum untuk memproses imformasi yang khusus.
Ø  Find a generality yaitu pebelajar menemukan aturan umum yang baru atau sebuah proses pada level yang lebih tinggi
Semua taxonomi yang diajukan oleh para ahli teori tersebut memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya. Seperti yang diidentifikasikan oleh Reigeluth dalam Table 2.
Tabel 2. Taxonomi Pembelajaran
Bloom
Gagne
Ausubel
Anderson
Merril
Reigeluth
Knowledge
Verbal information
Rote
learning
Declarative knowledge
Remember verbatim
Memorize Information
Comprehension
Meaningful learning
Remember paraphrased
Understand relationships
Aplication
Intellectual skill

Procedural knowledge
Use a generality
Apply skills
Analysis
Cognitive strategy


Find a generality
Apply generic skills
Synthesis
Evaluation

Model Pembelajaran SOI dari Mayer

Pada Makalah ini penulis mencoba untuk memaparkan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Richard E. Mayer. Model pembelajaran mayer ini, merupakan model yang yang didesain untuk membantu perkembangan konstruksi pengetahuan (understanding) melalui instruksi langsung (direct instruction). Untuk itu, dalam makalah ini penulis mencoba untuk meninjau sedikit tentang instruksi langsung.
  Mayer menyatakan dalam Reigeluth (1999), seorang pebelajar mendapatkan pembelajaran konstruktivist tidak hanya  melalui pembelajaran discovery, tetapi melalui instruksi langsung yang di desain dengan baik, akan memberikan pembelajaran yang bermakna. Tujuan pembelajaran langsung adalah untuk membantu pebelajar mempelajari material akademik dengan cara yang paling efisien secara langsung. Joyce, Weil and Calhoun, (2009). menyebutkan dua tujuan dari instruksi langsung yaitu memaksimalkan waktu belajar pebelajar dan mengembangkan kemandirian dalam mencapai tujuan pendidikan. Karateristik utama dari instruksi langsung adalah pembelajaran yang berpusat pada pembelajar, berorientasi pada tugas, harapan yang positif dari pembelajar, kerjasama dan tanggung jawab, nonnegative affect, dan penyusunan struktur (Cruickshank, 2009).
Ø  Pembelajaran yang terpusat pada pembelajar berarti bahwa pembelajar yang menentukan arah dan mengontrol apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya (Joyce, Weil and Calhoun,2009).
Ø  Berorientasi pada tugas berarti tugas-tugas merupakan dasar pembelajaran akademik.
Ø  Harapan positif mengindikasikan pembelajar memiliki harapan kepada setiap pebelajar untuk sukses dan sangat memberikan perhatian terhadap perkembangan tiap-tiap pebelajar.
Ø  Kerja sama dan tanggung jawab berarti pebelajar mempunyai tanggung jawab untuk pekerjaan akademik mereka masing-masing dan selanjutnya mereka diharapkan untuk saling membantu dan saling berbagi bahan pelajaran satu dengan yang lainnya.
Ø  Nonnegative affect berarti pembelajar menjamin pebelajar untuk merasa aman secara psykologi atau tidak merasa terancam.
Ø  Penyusunan struktur berarti  mengarah pada kenyataan bahwa pembelajar yang menetapkan aturan kelas yang harus diikuti oleh pebelajar.
Menurut Cruickshank dkk, 2009. Instruksi langsung akan bermanfaat pada saat diterapkan untuk mengajar pengetahuan konsep dan prosedur yang eksplisit. Dengan kata lain, pembelajaran langsung akan memberikan nilai bila digunakan untuk mengajarkan materi yang terstruktur dengan baik, jelas dan tidak ambigu. Lebih lanjut Cruickshank juga mengidentifikasi beberapa kritik terhadap pembelajaran langsung yaitu diantaranya adalah adanya pembatasan otonomi belajar, tidak membantu pebelajar dalam memperoleh nilai kreativitas, berfikir abstract, pemecahan masalah atau level yang lebih tinggi dalam kognitif skill.
            Mayer mengembangkan model pembelajaran SOI untuk membantu pembelajaran konstruktivis dengan penggunaan text, ceramah dan pesan multimedia. Tujuan model ini adalah untuk mendorong pengaktifan beberapa proses kognitif pada pebelajar selama pembelajaran yang mencakup: pemilihan informasi yang relevan, pengorganisasian informasi, dan pengintegrasian informasi yang datang dengan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh pebelajar. 

S          = selecting relevant information
O         = organizing information in a meaningful way to the learner
I           = integrating the new information with the learner’s prior knowledge
Selecting relevant information
proses pertama dalam model mayer ini adalah pemilihan informasi yang relevan untuk proses selanjutnya. Ketika gambar dan kata-kata disampaikan ke pebelajar dalam sebuah pesan pembelajaran, maka pebelajar melukiskannya ke dalam sensor memory. Disebabkan oleh keterbatasan kapasitas dari system proses informasi manusia, maka hanya sebagian dari informasi itu yang bisa digunakan dalam proses selanjutnya yaitu pada working memory. Oleh karena itu menurut mayer adalah penting untuk pebelajar melakukan seleksi informasi agar dapat bertahan pada working memory.
Mayer memberikan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mendorong pebelajar menyeleksi informasi yang relevan. Beberpa teknik itu antara lain: penggunaan heading, penulisan miring (italic), penebalan huruf, font yang lebih besar, bullets, tanda panah, ikon, garis bawah, margin notes, pengulangan atau white space untuk memperjelas informasi yang relevan. Selain itu penggunaan pertanyaan tambahan, pernyataan tujuan pembelajaran untuk menekankan imformasi yang relevan, penyediaan summary dan penghilangan informasi yang tidak relevan juga termasuk ke dalam teknik-teknik yang dapat dipakai untuk mendorong pebelajar menyeleksi informasi.

Organizing incoming information   
            Proses kedua pada model pembelajaran mayer ini yaitu mengorganisasi informasi yang dilakukan di dalam working memory. Beberapa teknik yang dapat dipakai untuk mendorong pebelajar mengorganisasi materi yaitu antara lain:
Struktur dari text yang dapat berupa struktur yang bersifat perbandingan, pengklasifikasian (jaringan hirearki), enumerasi, generalisasi, dan struktur sebab akibat. Selain mengolah struktur text itu sendiri, cara seperti penggunaan outline, heading, pointer atau representasi graphic juga dapat dipakai untuk mendorong pebelajar mengorganisasi materi.

Integrating information
            Pada proses yang ketiga, pebelajar membuat koneksi satu-satu antara elemen pictorial yang berkorespondensi dan representasi verbal dengan menggunakan pengetahuan sebelumnya. Bagaimana cara untuk mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya, Mayer telah mendemonstrasikan bagaimana menggunaan teknik advance organizer atau analogy, ilustrasi, animasi bernarasi, worked-out examples, dan pertanyaan elaborative dapat dipakai untuk membantu pebelajar dalam mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.
Berikut ini kerangka perbandingan yang diajukan oleh reigeluth yang dapat digunakan sebgai cara untuk mengklasifikasikan model pembelajaran (reigeluth, 2009) yang terdiri dari :
type of learning: berhubungan dengan maksud dan tujuan pembelajaran serta tipe pembelajaran yang terlibat.
focus of learning: apakah pembelajaran berkisar pada topic yang specific, masalah atau hal yang lainnya.
control of learning: siapakah yang mengontrol pembelajaran : pembelajar, pebelajar atau pendesain pembelajaran
grouping of learning: bagaimana pebelajar dibuatkan grup atau apakah pebelajar bekerja secara individual atau berkelompok
interaction for learning: apa bentuk interaksi alami pembelajaran, pembelejar dengan pebelajar, pebelajar dengan pebelajar atau pebelajar dengan material
            support for learning: apa jenis dan level pendukung yang diberikan kepada pebelajar, apa jenis pendukung kognitif yang diberikan oleh pembelajar atau materi, sumber daya apa yang tersedia di dalam pembelajaran, apa jenis pendukung emotional yang diberikan.

a.      Type of learning
Tipe model pembelajaran SOi ini adalah pengaplikasian skill, pemahaman hubungan antar materi, dan penerapan skil umum.

Memorize information
Apply skills
Understand relationship
Apply generic skills

Meskipun ketiga area di atas adalah relevan dengan model pembelajaran SOI, namun penerapan skil umum tidak menjadi penekanan pada model mayer ini (Bradford G etc, 2008).

b.      Control of learning
Kontrol pembelajaran model SOI adalah berpusat pada pebelajar. Mayer meletakkan model pembelajaran yang ia kembangkan kedalam pendekatan konstruktivis, yang dapat diketahui dari pernyataanya yang berbunyi “constructivist learning occur when learner actively create their own knowledge by trying to make sense out of material that presented to them” (Mayer,1999)
Secara umum model pembelajaran SOI berfokus pada aktivasi proses kognitif pebelajar yang terdiri dari penyeleksian, pengorganisasian dan pengintegrasian materi. Pebelajar memiliki tanggung jawab pada penyeleksian informasi yang relevan, pengorganisasian dan pengintegrasikan imformasi. Ketiga elemen ini secara bersama-sama menunjukkan bahwa model pembelajaran SOI ini adalah berpusat pada pebelajar.

c.       Focus of learning
Fokus model pembelajaran SOI ini adalah untuk pebelajar mampu memilih, mengorganisasi dan menginterpretasikan imformasi secara tegas dari bahan text, ceramah dan multimedia.


d.      Grouping of learning
Model pembelajaran SOI berfokus pada proses kognitif sesorang dalam memilih, mengorganisasi dan mengintegrasikan imformasi. Sehingga semua tugas diselesaikan secara individu ketimbang dalam sebuah grup.




e.      Interaction for learning

Learner – human interactions
Learner – Non human interactions
Learner-instructor
Learner-learner
Learner-other
Learner-content
Learner-interface
Learner-environment






f.        Support for learning
Model pembelajaran yang dikembangkan oleh Mayer adalah sebagai support cognitive yang berfokus pada penyediaan strategi untuk pengorganisasian, penekanan dan pemanfaatan pesan pembelajaran yang berguna untuk membantu pebelajar dalam melakukan pemilihan, pengorganisasian dan pengintegrasian materi.

Kesimpulan

Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Berdasarkan pada variabel-variabel yang mempengaruhi pada proses pembelajaran itu sendiri, maka sebenarnya tidak ada satupun metode pembelajaran  yang dianggap paling baik atau  tidak baik dalam pembelajaran. Model pembelajaran Mayer adalah model pembelajaran yang kelihatannya bersifat pasif, misalnya seperti membaca atau mendengarkan ceramah instructor. Tetapi apabila teks bacaan dan ceramah didesain dengan teknik-teknik seperti yang diungkapkan oleh Mayer maka pembelajaran konstrukstivis juga bisa dihasilkan dengan mengajak pebelajar untuk memperhatikan imformasi yang relevan (selecting), secara mental mengorganisasi imformasi ke dalam sebuah gambaran yang saling bertalian secara logis (organizing) dan mengintegrasikan imformasi tersebut dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.


References

Anderson, L. W. & Krathwohl D. R., (2001) A Taxonomy For Learning, Teaching, And Assessing: A Revision Of Bloom’s Taxonomy Of Educational Objectives
Cruickshank, Jenkins & Metcalf, (2009). The Act Of Teaching
Gredler, E. M. (2011)., Learning And Instruction: Theory and The Application.
Joyce, B., Weil, M., & Calhoun, E. (2009). Model Of Teaching
Reigeluth, C. M., (1983) Instructional Design Theoris And Models: A New Paradigm of Instructional Theory, Volume I.
Reigeluth, C. M., (1999) Instructional Design Theoris And Models: A New Paradigm of Instructional Theory, Volume II.
Reigeluth, C. M., (1999) Instructional Design Theoris And Models: Building a Common Knowledge Base, Volume III.
http://www.heybradfords.com/moonlight/files/CV/DoctoralCourseFiles/Design%20Brief_r1.pdf